Thursday, January 4, 2018

Menggali kandidasi kepala daerah Sumatera Utara

Mencari pemimpin yang tepat pada perhelatan pilgubsu di Sumut
Sebagai provinsi perkebunan, Sumatera Utara memberikan dukungan ekonomis yang cukup besar bagi perkembangan negara Republik Indonesia. Di lain hal, provinsi ini juga memiliki keberagaman budaya yang cukup tinggi sehingga dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kehidupan sosial dan ekonomis masyarakatnya. Di tahun 2018 ini, masyarakat Sumatera Utara pun akan diberikan tanggung jawab untuk memilih kepala daerah yang nantinya selama lima tahun mampu untuk memanfatkan potensi ini. Namun, siapakah?

Dirasah Ilmu – Sejak tahun 2005, kepala daerah di Sumatera Utara terpilih karena proses “abdikasi criminal” yang disebabkan oleh berbagai hal. Tak hanya korupsi, kolusi dan nepotisme, persoalan rumah tangga pun menjadi pemicu untuk melakukan abdikasi tersebut. Namun, terlepas dari setiap permasalahan yang dikemukakan selama hampir dua dekade terakhir, prestasi terbesar yang dirasakan oleh masyarakat Sumatera Utara hanya terbatas pada infrastruktur transportasi semata berupa pembangunan bandara dan pelabuhan di beberapa wilayah kabupaten.

Sektor lain seperti pelayanan kesehatan dan pendidikan, serta peningkatan peradaban masyarakat tergolong rendah. Meskipun pengunjung pada Istana Maimoon meningkat drastis, fasilitas pendidikan, kesehatan dan kebudayaan hanya dibangun semata-mata untuk membuat mata masyarakat nyaman. Sebut saja seperti fasilitas gedung, jaringan internet nirkabel, perpustakaan sekolah yang tidak optimal. Sementara itu, tempat-tempat publik yang befungsi untuk meningkatkan peradaban masyarakat seperti museum, taman-taman kota tak tersentuh oleh pemerintah secara maksimal.

Namun demikian, ukuran kandidasi yang dimaksud oleh penulis bukan terletak pada keberagaman proyeksi kerja yang ditawarkan oleh para kandidat yang muncul saat ini.

Ukuran Kandidasi Kuno dan Modern
Sepanjang penulis mengikuti proses pemilihan umum baik daerah maupun nasional (legislatif dan eksekutif), ada tiga hal yang digunakan para kandidat untuk dapat terpilih berupa pelayanan kesehatan, pendidikan, dan infrastruktur jalan. Dengan ketiga program utama tersebut masyarakat menganggap bahwa sektor-sektor ini adalah hal yang esensial. Kecenderungan untuk memilih kandidat berdasarkan ketiga program ini berujung pada ketidakpedulian pada karakteristik seorang kepala daerah sebagai pemimpin.

Dalam ajaran Islam, karakteristik kepemimpinan tersebut dibangun atas tiga hal berupa SAFT, yaitu Shiddiq, Amanah, Fathanah, dan Tabligh. Namun, diskursus karakteristik kepemimpinan saat ini seolah-olah taboo untuk dibicarakan bahkan untuk dijadikan pedoman bagi mereka para kandidat untuk dijadikan jargon kampanye. Maka dari itu, penulis mencoba mengukur dari konteks fiqh yang diajarkan oleh Islam itu sendiri. Sehingga para pembaca dapat menilai apakah ukuran ini pantas untuk dijadikan acuan, atau bahkan irrelevant di zaman modern ini.

Seorang sahabat menjawab pertanyaan penulis mengenai apa hal yang pertama sekali harus dilakukan untuk mempelajari Fiqh, maka ia menjawab, “Taharah” yang artinya bersuci. Mengapa demikian? “Ia melanjutkan, bagaimana mungkin engkau bisa belajar apabila dirimu tidak bersuci?” Maksudnya? “Kebersihan secara fisis akan membawamu pada kebersihan hati dan niat, sehingga mudah bagimu untuk belajar”. Itulah mengapa, dalam mempelajari ilmu Fiqh atau syariat Islam hal yang pertama sekali dibahas ialah “Bersuci” atau dalam Bahasa umum ialaah “Kebersihan”.

Maka, beranjak dari pemahaman tersebut ukuran kandidasi yang terbaik ialah dengan menonjolkan program-program tentang kebersihan. Sebut saja seperti janji kampanye tentang “Sumut Sehat” dengan cara menggratiskan uang berobat. Hal ini tentu akan menjadi lahan basah bagi mereka untuk setiap tahunnya mengalokasikan dana untuk perobatan rakyat, mungkin dengan istilah sekarang BPJS. Artinya, setiap janji kampanye yang disebutkan ditulis sedemikian rupa sehingga samar bagi pembaca bahwa meskipun itu terlihat long-term solution tapi justru itu short-term solution. Bukankah istilah, “Mencegah lebih baik dari mengobati?”

“Kebersihan adalah sebahagian dari Iman” adalah salah satu pepatah yang sering terdengar. Berdasarkan pepatah tersebut ia dapat berkembang pada konteks lapangan kerja, pendidikan dan lingkungan. Sebut saja seperti janji kampanye, “Pengelolaan sampah berdaya guna untuk Sumut Bersih” yang apabila dikelola dengan baik dapat menghasilkan gas metana yang digunakan sebagai sumber energi listrik ataupun panas untuk memasak. Selain itu, dengan adanya pengelolaan sampah, dapat dibayangkan sektor lapangan pekerjaan yang tercipta mulai dari pengumpulan sampah, pengelolaan sampah, dan hasil pengelolaan sampah.

Di lain hal, pemanfaatan sampah mampu meningkatkan pemahaman masyarakat tentang lingkungan sehingga mereka memahami dampak lingkungan. Tentunya, pemerintah akan melakukan bentuk-bentuk penyuluhan dan workshop bagi masyarakat, sehingga mereka terlibat secara aktif. Di sektor pendidikan, solusi krisis energi yang telah diatasi memunculkan dana yang cukup untuk meningkatkan fasilitas dan infrastruktur pendukung sekolah. Dengan demikian, makna “Bersihnya seorang pemimpin” dapat diukur dari program-program nyatanya yang secara langsung tertuju pada konsep “Taharah/ Bersuci/ Kebersihan”.

Islam dan Taharah
Bagi anda ummat Islam, Surah Al-Ankabut ayat 45 menyatakan tentang ibadah dalam mencegah perbuatan keji dan munkar. Namun, khususnya bagi anda para kader organisasi tertentu yang memiliki diskursus ini justru tersandung pada ranah pemahaman praktikal. Konteks praktikal yang dimaksud adalah Taharah sebelum beribadah yang dalam pengertian manusia mencoba untuk membersihkan dirinya dari kotoran-kotoran fisikal untuk mencapai kebersihan secara spiritual. Jadi, sederhananya adalah konsep “kebersihan” secara fisikal haruslah ditegakkan sebelum menjadi seorang Imam.

Nah, bagaimana seorang kepala daerah dapat menjawab problematika yang didapat di masyarakat Sumatera Utara pada konteks sosial dan ekonomi? Maka jawabannya adalah bangunlah sarana dan infrastruktur terkait dengan kebersihan, bukan kesehatan, pendidikan, ataupun energi terlebih dahulu. Hal inilah yang mungkin disadari oleh walikota Bandung tentang kebersihan kota melalui pemanfaatan taman-taman dan pohon-pohon kota.

Sebagai kesimpulan, hemat penulis, ukuran kandidasi yang terbaik bagi kepala daerah Sumatera Utara ialah mereka yang peduli tentang kebersihan. Dengan mencoba membersihkan diri dari kotoran-kotoran fisikal, maka si kandidat telah mencoba untuk menghindarkan dirinya dari hal-hal yang bersifat kotor sehingga ia akan menuju kepada kebersihan spiritual.

Sunday, December 31, 2017

Budaya Islam dan Tahun Baru

Kembang api malam tahun baru merupakan bentuk kemubaziran yang dilakukan
Tak ada sebenarnya yang menjadi persoalan antara keduanya. Ummat Islam di berbagai belahan dunia juga merayakan tahun baru baik miladiyah atau masehi, dan tahun baru hijrah atau hijriyah. Lantas mengapa hari ini banyak yang tidak sepakat untuk merayakan tahun baru masehi?

Dirasah Ilmu – Salah satu teman facebook yang kebetulan teman ayahanda saya menulis sebuah status di halaman akun facebook-nya. Kira-kira begini, “Kenapa rupanya dengan merayakan tahun baru? Tahun baru ini kan juga milik ummat Islam yang juga ummat manusia. Bahkan, di dalam Islam, kita menentukan masuknya hari berdasarkan bulan atau qamar, sementara itu untuk menentukan kapan masuk waktu Shalat, kita menggunakan matahari atau syams”. Yang terlintas pada pemikiran pembaca juga mungkin sama, apa persoalannya merayakan tahun baru masehi?

Makna Tahun Baru
Bagi beberapa orang termasuk orang yang beragama Islam itu sendiri, Islam adalah sebuah agama yang hanya mengurus persoalan manusia dan Tuhan-nya, khususnya hari ini bagi Allah SWT. Sebaliknya, bagi mereka yang memahami dan men(coba)-ngamalkannya menyatakan bahwa Islam itu tak hanya sebatas agama. Islam itu juga tak hanya berbicara tentang tata aturan spiritual yang ditujukan untuk menyenangkan perasaan atau pemikiran seseorang. Diskursus ini akan berakhir pada pernyataan universal dan tegas, “Islam adalah rahmatan lil ‘alamin”.

Salah satu definisi Islam menurut para ahli ialah, Islam terdiri atas tiga hal berupa sebagai sumber dari segala sumber aturan, budaya, dan perilaku. Ketiga hal tersebut menyatakan bahwa Islam bukanlah hal yang terkesan complicated atau ruwet, kompleks, melainkan Islam bersifat comprehensive atau menyeluruh. Nah, persoalan utama yang didapatkan ketika melakukan “perayaan” adalah sebuah aktivitas dengan isi bersenang-senang sehingga larut hingga dini hari. Sebenarnya, konteks perayaan inilah yang akhirnya berujung kepada kontradiksi antara budaya Islam di tahun baru masehi.

Dalam kamus Oxford, celebrating yang berasal dari kata celebration didefinisikan sebagai a special event that people organize in order to celebrate something: birthday or wedding celebrations atau the act of celebrating something. Sementara itu, definisi celebrate adalah to show that a day or an event is important by doing something special on it atau something to perform a religious ceremony atau somebody or something to praise somebody or something. Secara sederhana, maksud dari selebrasi adalah bentuk penghargaan atau melakukan sesuatu demi kepentingan tertentu. Dengan kata lain selebrasi berupa sebuah proses mengenali diri sendiri, dan menikmati hasil yang diperjuangkan yang nantinya bermanfaat di masa depan.

Konteks inilah yang akhirnya membawa kita pada istilah hijrah (pada tahun baru hijriyah) atau resolusi (pada tahun baru masehi). Realita keadaan justru berbanding terbalik dengan konteks selebrasi. Pesta dimana-mana, uang dihamburkan dalam berbagai macam bentuk sebut saja seperti kembang api, mercon, terompet, aktivitas-aktivitas hura-hura seperti pesta dengan minuman beralkohol, atau rendah alkohol, maupun minuman non alkohol. Artinya, makna tahun baru justru tidak sesuai dengan makna perayaannya. “Sebentar lagi kan tahun baru, hari baru, dinikmati saja sisa tahun ini”.

Selebrasi dalam Islam

Islam mengajarkan pada 17:27, yaitu “Sebab orang-orang yang menghambur-hamburkan harta secara berlebihan (boros) adalah saudara-saudara setan”.

Pada perayaan tahun baru masehi, masyarakat pada umumnya akan mendapatkan keuntungan duniawi karena di hari berikutnya adalah tanggal 1 Januari yang pada umumnya perusahaan akan memberikan gaji. Berbeda dengan tahun baru Islam, yang tanggalnya tergantung pada kalender hijriyah. Hal ini pula yang mendorong, banyak masyarakat di dunia untuk menghamburkan uangnya. Sehingga, pada tanggal 31 Desember, mereka seolah-olah menyatakan gajian sudah didepan mata. Kebiasaan ini di dalam Islam ialah kufur terhadap nikmat Tuhan.

Hadits Rasullullah SAW, " Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah SWT membaca kitabullah dan saling mengajarkan satu dan lainnya melainkan akan turun kepada mereka sakinah (ketenangan), akan dinaungi rahmat, akan dikelilingi para malaikat dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di sisi makhluk yang dimuliakan di sisi-Nya (HR. Muslim, no. 2699)"

Memang, tahun baru identik dengan hari libur dimana banyak masyarakat dapat berkumpul di rumah ataupun kampung halamannya. Namun, bukan untuk berkerumun untuk melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat. Islam mengajarkan untuk berkumpul dan berjamaah dalam rangka meningkatkan nilai-nilai sosial. Sebut saja seperti melakukan acara barbecue atau “bakar-bakar” namun konsepnya seperti hari raya Qurban. Jadi, ikan, ayam, dan jenis-jenis makanan yang nantinya dibakar akan diberikan pada mereka yang membutuhkan seperti pengemis, anak jalanan, ataupun jiran tetangga yang membutuhkan.

QS 3:103 menyatakan “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai”.

Sebagai kesimpulan, merayakan tahun baru lebih baik dilakukan dengan mengisi kegiatan-kegiatan yang bermanfaat. Bagi anda yang saat ini sedang merayakannya dengan melakukan acara bakar-bakar, apa salahnya konsep acara tersebut dilakukan seperti pada hari raya Qurban, sehingga tak hanya anda dan teman-teman, orang-orang yang membutuhkan pun dapat merasakan rezeki yang anda dapatkan. Begitu pula jikalau berkumpul dengan keluarga.

Menyebar pesan kemanusiaan melalui kaligrafiti

Kaligrafiti yang berasal dari kaligrafi dan graffiti, El Seed
Bagi beberapa masyarakat, khususnya masyarakat barat, menganggap orang dan kebudayaan arab adalah hal yang sangat menakutkan. Nama, bahasa dan semua yang berkaitan dengan arab dianggap sebagai bentuk teorisme. Stereotip yang salah ini membuat dunia arab mendapatkan kesulitan ketika berpadu di dunia modern seperti sekarang ini.

Namun, bagi el Seed yang merupakan artis berwarganegara Perancis keturunan Tunisia ini mampu menggabungkan budaya arab dengan seni. Melalui, kaligrafiti, ya dua buah budaya yang sangat berbeda. Kaligrafiti berasal dari dua budaya berupa kaligrafi dan graffiti. Kemampuannya dalam menggabungkan kedua budaya ini telah membawanya kepada sebuah pengalaman yang tidak pernah terlupakan. Kaligrafiti telah memberikan warna baru tentang perdamaian dan persatuan bagi masyarakat pinggiran di kota Cairo, Mesir.

Seni yang diciptakan oleh El Seed bukanlah hanya sebatas seni biasa. Melalui seninya, ia mencoba menyampaikan pesan mengenai nilai-nilai kemanusiaan, toleransi, seni puisi, dan perdamaian. Namun, yang menjadi pertanyaan mengapa menggabungkan kaligrafi yang merupakan seni budaya timur tengah menggunakan bahasa Arab dengan graffiti yang merupakan budaya barat dengan karakteristik kebebasan. Keduanya merupakan dua budaya yang saling bertolak belakang.

Melalui websitenya, el Seed menyatakan bahwa seni kaligrafi merupakan sebuah seni yang tak hanya sebatas kata-kata ataupun arti tertentu, melainkan adanya sebuah inspirasi bagi seseorang ketika ia melihatnya. Sehingga orang-orang, khususnya masyarakat terinspirasi ketika melihatnya pertama sekali. El Seed saat ini menerima berbagai penghargaan atas karya seninya seperti di tahun 2017 ia memenangkan hadiah dari UNESCO Sharjah Prize untuk Kebudayaan Arab, dan ia juga tergabung dalam TED Fellow members. Anda bisa melihat lebih banyak karya-karyanya baik di website ataupun di akun instagramnya.

Sunday, December 24, 2017

Jangan Minum Kopi pada Saat Perut Kosong

Minum kopi di pagi hari saat perut kosong sangat berbahaya bagi kesehatan lambung
Kopi merupakan salah satu minuman yang paling nikmat tentunya bagi beberapa orang. Apalagi, minuman kopi ini diminum di pagi hari sebelum beraktivitas. Kopi panas menjadi salah satu minuman yang dapat memotivasi kita untuk memulai hari lebih baik lagi dari hari sebelumnya. Namun, anda seharusnya jangan minum kopi ketika perut kosong, yah al ini serius bagi kesehatan anda.

Dirasah Ilmu – Bagi para penikmat kopi, menikmati kopi di pagi hari selepas bangun adalah salah satu hal yang menyenangkan. Kopi panas dengan aromanya yang khas, ketika di-sruput sambil menikmati udara pagi menjanjikan kenikmatan tersendiri. Meskipun terlihat normal, ternyata meminum kopi di pagi hari dengan keadaan perut kosong dapat meningkatkan tingkat keasaman pada lambung. Justru, hal tersebut dapat membahayakan kondisi lambung seseorang, dan akhirnya dapat mempengaruhi mood si peminum. Oleh karenanya disarankan untuk setidaknya memakan makanan ringan sebelum meminum kopi seperti roti ataupun donat.

Tubuh manusia, khususnya pada organ lambung memproduksi asam klorida sebagai senyawa kimia untuk mengubah makanan yang masuk kedalam tubuh agar mudah diserap. Pagi hari adalah periode rentan karena lambung telah selesai mencerna makanan dalam tubuh sehingga tingkat keasaman pada lambung dalam keadaan tinggi. Oleh karenanya, ketika asam lambung dalam keadaan tinggi, maka kopi yang mengandung senyawa kafein akan mengalami proses dekafeinasi (yaitu sebuah proses lepasnya kafein dari kopi).

Kehadiran kafein di dalam lambung dapat menyebabkan berbagai persoalan di lambung seperti peningkatan tekanan darah dan kontraksi pembuluh darah dalam jantung atau vasoconstriction. Namun, kehadiran kafein pada perut kosong akan meningkatkan produksi asam klorida pada lambung sehingga terjadi gangguan pada proses pencernaan secara kimiawi. Semakin tinggi asam lambung maka, zat-zat makanan yang akan dicerna setelah minum kopi menjadi tidak ada. Hal ini lah yang menyebabkan perubahan mood setelah makan yang didahului dengan minum kopi. Justru, bukan memberikan semangat untuk memulai pekerjaan, malah menjadi lemas dan lesu, bahkan mengalami kecemasan.

Lalu, kapan waktu yang tepat untuk meminum kopi?
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, apabila ingin meminum kopi pada pagi hari, usahakan meminumnya dalam keadaan perut yang sudah terisi. Jika anda tidak terbiasa untuk memakan makanan berat seperti nasi ataupun mie, anda bisa memulainya dengan memakan kudapan ringan seperti roti atau biskuit. Hal tersebut dilakukan untuk menjaga tingkat keasaman pada lambung manusia.

Secara biologis, keadaan tubuh manusia pada pagi hari setelah tidur dalam keadaan hormon kortisol yang tinggi sehingga tubuh kita seolah-olah sensitif yang akhirnya membuat kita tetap terjaga. Oleh karenanya, apabila meminum kopi setelah bangun pagi justru akan membuat tubuh lebih sensitif menerima efek yang disebabkan kafein kopi di dalam lambung. Oleh karenanya, disarankan untuk meminum kopi pada saat level hormon kortisol sudah menurun yaitu di waktu pagi menjelang siang, atau dalam Islam di waktu setelah Dhuha. Sore hari juga waktu yang tepat untuk meminum kopi karena level hormon kortisol juga dalam keadaan rendah.

Sebagai kesimpulan, kopi adalah salah satu minuman penyemangat bagi beberapa orang. Namun demikian, meminum kopi di pagi hari setelah bangun adalah hal yang tidak menyehatkan karena dapat menimbulkan kecemasan, dan peningkatan detak jantung dan tekanan pada pembuluh darah diakibatkan oleh kehadiran kafein dan tingginya asam lambung.

Saturday, December 23, 2017

Warung kopi, “riwayatmu kini”

Warung kopi di zaman modern
“Kalau saja Soekarno masih hidup, negara-negara kecil di sekitaran Indonesia itu sudah gabung sama kita”, kata seorang bapak tua. Kutipan kalimat itu didengar di sebuah warung lontong dan kopi pada tahun 1996an. Ya, warung kopi adalah tempat untuk berinteraksi antar sesama dalam rangka membicarakan segala hal termasuk sejarah dan politik.

Dirasah Ilmu – Namun, kutipan tersebut sekarang sudah berbeda dengan kutipan orang-orang yang sedang berada di warung kopi. Para pengunjung warung kopi sekarang justru menikmati layanan-layanan yang disediakan oleh si empunya warung kopi, seperti WiFi, sumber listrik gratis, televisi kabel berbayar, live music. Dan bahkan, beberapa diantaranya menyediakan layanan permainan konsol game seperti PS3 dan PS4. Dengan demikian, warung atau kedai kopi bukanlah lagi sebagai tempat bercengkerama, melainkan sebuah warung serba ada.

Padahal sebuah warung kopi adalah warung yang menyediakan minuman utama berbasis kopi seperti kopi hitam, kopi susu, cappuccino, espresso ataupun café latte. Selain kopi, minuman lain yang disediakan berupa teh. Warung kopi juga menyediakan baik minuman panas maupun dingin, dan secara budaya warung kopi hanya menyediakan jenis makanan tertentu seperti kudapan ringan, kue kering dan kue basah. Berbeda dengan warung kopi di zaman sekarang, dimana minuman dan makanan lain juga disediakan.

Namun dalam artikel kali ini, pembahasan lebih tepatnya mengarah pada aktivitas yang ada di warung kopi meskipun makanan dan minuman sebenarnya mempengaruhi aktivitas konsumen. Dari sudut pandang budaya, warung kopi adalah sebuah pusat tempat berkumpulnya masyarakat untuk berinteraksi antar sesama, atau sebagai tempat untuk membaca, menulis atau hanya sekedar tempat berkumpul. Banyak tokoh-tokoh dunia yang mencari dan mengembangkan idenya di sebuah warung kopi, sebut saja seperti Newton dan Halley, serta JK. Rowling.

Warung Kopi di Indonesia
Dahulunya, warung kopi memang berbentuk sebuah warung dengan disediakannya makanan ringan seperti roti dan goreng-gorengan. Bahkan, di beberapa warung kopi tertentu disediakan bubur atau lontong untuk sarapan pagi. Namun, yang menarik dari warung kopi di Indonesia itu adalah adanya surat kabar yang selalu disediakan oleh para penjaga warung. Tak hanya satu jenis surat kabar, bahkan ada sampai dua atau tiga jenis surat kabar. Menurut kebiasaan, warung kopi memang salah satu tempat intelektual untuk berdebat dan berdiskusi.

Berkembangnya teknologi mengakibatkan perubahan yang signifikan pada warung kopi. Munculnya teknologi internet nirkabel atau WiFi mengubah warung kopi seperti warung internet. Namun demikian, masih ada beberapa warung kopi yang tetap menyediakan surat kabar, bahkan majalah untuk dibaca meskipun pengunjung hanya meminum kopi sambal menikmati layanan internet gratis. Akan tetapi, pergeseran pemahaman warung kopi pun terus terjadi hingga munculnya layanan aplikasi berbasis video dan game.

Secara kultural, sebenarnya kehadiran teknologi WiFi memberikan kemudahan dalam berinteraksi, khususnya berdiskusi dan berdebat ataupun pada saat menulis dan membaca. Terlebih lagi bagi mereka yang sedang menikmati tontonan yang bersifat edukatif dan inspiratif meskipun lebih menarik hal-hal yang berbau olahraga. Akan tetapi, bagi generasi milenial hal tersebut justru dimanfaatkan sebagai sarana untuk memuaskan rasa candu media sosial dan game online. Ya, anda akan mendapati mereka yang memainkan telepon pintarnya dibandingkan berbicara mengenai segelas minuman kopi yang dipesannya.

Warung kopi saat ini hanya tinggal kenangan. Pusat munculnya ide-ide brilian dan tempatnya berdebat dan berdiskusi tak lagi identik dengan kopi ataupun teh. Warung kopi, “riwayatmu kini”

Saturday, December 16, 2017

Perdagangan rempah-rempah kuno di Indonesia telah terjadi 2500 tahun yang lalu

Perdagangan rempah-rempah kuno di Indonesia sudah dimulai sejak 2500 tahun yang lalu
(gambar dari Australian National University)
Rekam sejarah Indonesia di sekitaran era kolonialisme menyatakan bahwa Indonesia adalah salah satu tempat dengan kekayaan rempah-rempah di dunia. Sejak abad 15 masehi, negara-negara di luar Indonesia termasuk negara-negara Eropa sudah mengenalnya. Dengan alasan ini pula akhirnya, bangsa Portugis berlayar untuk mendapatkan rempah-rempah yang berada di kepulauan Maluku. Begitu pula dengan bangsa lain seperti Spanyol dan Belanda. Namun, penelitian terbaru menyatakan bahwa perdagangan internasional telah dilakukan oleh bangsa ini sekitar 2500 tahun yang lalu.

Dirasah Ilmu – Para arkeolog dari Australian National University menemukan banyaknya simbol dan ilustrasi yang tergambar pada lukisan-lukisan gua di pulau Kisar yang berada di bagian utara benua Australia. Lukisan gua di pulau Kisar ini menggambarkan adanya kapal-kapal, anjing, kuda dan orang-orang yang sedang memegang sesuatu berbentuk pelindung. Pada lukisan yang sama juga terdapatilustrasi yang menggambarkan orang-orang bermain drum untuk upacara-upacara tradisional. Professorr O’Connor dari School of Culture, History and Language menyatakan bahwa lukisan ini mengilustrasikan adanya sebuah perdagangan antar masyarakat khususnya dengan masyarakat wilayah sekitarnya.

Pulau Kisar sendiri dikenal dengan sebutan Yotowawa yang berada di bagian paling selatan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan lokasi pulau Kisar berada di bagian terluar Indonesia. Wilayah pulau Kisar menjadi salah satu pulau penghasil rempah-rempah di masa kolonialisme dan menjadi perebutan oleh Inggris, Belanda, Portugis dan Spanyol dulunya.

Rempah-rempah merupakan material yang penting bagi beberapa kebudayaan di Dunia. Tanaman rempah-rempah tak hanya dijadikan sebagai salah satu bumbu masak pada masakan tradisional. Bagi bangsa Mesir Kuno sendiri, rempah-rempah seperti kayu manis, merica dan cengkeh digunakan untuk mengawetkan raja-raja mesir dalam bentuk mumi. Sebagai negara penghasil rempah-rempah terbanyak dan terbaik, Indonesia dikenal tak hanya pada zaman prasejarah dan sejarah, melainkan juga hingga zaman sekarang.

Namun, pulau Kisar bukanlah menjadi salah satu destinasi rempah-rempah pada zaman penjajahan dulu. Menurut para arkeolog dari Australian National University menyatakan bahwa, “Pulau Kisar tak pernah sebelumnya dieksplor oleh para penjelajah. Penemuan adanya ilustrasi perdagangan di pulau ini menunjukkan adanya perdagangan rempah-rempah yang sudah terjadi di zaman Neolitikum berkisar 3500 tahun yang lalu.

Penelitian yang juga dipublikasi di Cambridge Journal of Archaelogy ini menyatakan bahwa perdagangan internasional pertama yang dilakukan oleh masyarakat Kisar adalah dengan menjalin hubungan  masyarakat Vietnam Utara dan Cina Selatan yang diindikasikan dengan adanya gambar seseorang dalam bahan logam. Hal ini juga berimplikasi pada adanya sebuah sistem tukar menukar baru yang telah dilakukan oleh masyarakat dalam pertukaran barang.